Be Genuine Person
Setelah pembayaran, masuk dengan Google (email yang sama) untuk aktivasi akses otomatis.
Sinopsis
Menjadi pribadi yang genuine bukan tentang menjadi sempurna, apalagi menjadi berbeda demi terlihat istimewa. Menjadi genuine adalah keberanian untuk jujur pada diri, konsisten pada nilai, dan hadir apa adanya dalam kehidupan nyata.
Deskripsi
Berbagai tanya acap berseliweran di ranting-ranting
pikiran dan hamparan perasaan saya. Bersama segala
kelemahan, saya sering merenung: sepertinya semua rasul,
nabi, waliyullah, dan orang-orang hebat selalu bertanya.
Pertanyaan tentang diri, kehidupan, muasal diri, hendak ke
mana, akan jadi apa, serta beransum pertanyaan lain. Sama
halnya dengan buku ini, juga bermula dari berbuntal tanya:
bagaimana manusia dapat hidup utuh, tenang, dan bermakna di
tengah dunia yang semakin bising oleh tuntutan, citra, dan
kepalsuan. Banyak orang bergerak cepat, tetapi kehilangan
arah. Banyak yang terlihat berhasil, tetapi rapuh di dalam.
Banyak yang rajin berbicara tentang nilai, tetapi jauh dari
kehadiran diri yang sejati. Dari kegelisahan inilah gagasan
tentang menjadi genuine person menemukan titik pijaknya.
Menjadi pribadi yang genuine bukan tentang menjadi
sempurna, apalagi menjadi berbeda demi terlihat istimewa.
Menjadi genuine adalah keberanian untuk jujur pada diri,
konsisten pada nilai, dan hadir apa adanya dalam kehidupan
nyata. Keberanian ini tidak selalu heroik, tetapi justru sering
hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang sunyi: memilih jujur saat
mudah berbohong, memilih adil saat ada peluang
menguntungkan diri, memilih setia pada nilai saat dunia
menawarkan jalan pintas.
Buku ini tidak mengajak pembaca menjauh dari dunia,
juga tidak mengajak larut di dalamnya. Buku ini mengajak
pembaca berdamai dengan realitas sambil tetap menjaga
kejernihan batin. Setiap pembahasan berangkat dari
pengalaman manusia sehari-hari: relasi, luka, ambisi, kegagalan,
pencarian makna, dan kerinduan akan ketenangan. Semua itu
dirangkai secara menyatu agar pembaca tidak hanya
memahami secara intelektual, tetapi juga merasakan secara
eksistensial.
Di tengah budaya artifisial yang menilai manusia dari
tampilan dan pengakuan, buku ini menegaskan kembali
pentingnya keaslian. Keaslian tidak membuat manusia terasing,
justru membuat manusia lebih terhubung. Ketika seseorang
jujur pada diri, relasi menjadi lebih sehat. Ketika nilai dijaga
tanpa kekakuan, dialog menjadi mungkin. Ketika makna
diberikan tanpa mencari pengakuan, hidup terasa ringan dan
berdaya guna.
Proteksi Konten
- Baca online di platform โ atau download ebook asli.
- Watermark dinamis berisi identitas pembeli di setiap halaman.
- Konten Premium, dilindungi hak cipta.