Ada sesuatu yang sangat indah dari kesederhanaan. Yaitu, tidak berisik, tidak meminta perhatian, dan tidak selalu tampak mengesankan. Akan tetapi, justru di balik kesederhanaan itu sering tersembunyi kedalaman yang tidak langsung terlihat.
Memilih sederhana bukan berarti memilih yang serba sedikit. Bukan pula berarti menolak kemajuan, pencapaian, atau keluasan pengetahuan. Sederhana adalah kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya: mengetahui mana yang penting, mana yang sekadar menarik, mana yang perlu dikejar, dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Orang yang sederhana bukan orang yang tidak memiliki banyak hal. Dirinya adalah orang yang tidak membiarkan banyak hal menguasai dirinya.
Dalam kehidupan yang semakin ramai, kesederhanaan justru menjadi bentuk kekuatan. Kita dikelilingi begitu banyak pilihan, informasi, pendapat, gaya hidup, dan ukuran keberhasilan. Jika tidak berhati-hati, kita mudah menjalani kehidupan berdasarkan apa yang terlihat, bukan berdasarkan apa yang benar-benar bermakna.
Padahal, tidak semua yang gemerlap membawa ketenteraman.
Tidak semua yang rumit menunjukkan kedalaman.
Dan tidak semua yang sederhana berarti dangkal.
Ada orang yang belajar begitu banyak, tetapi semakin sulit menjelaskan apa yang diketahuinya. Pengetahuannya bertambah, tetapi jarak antara dirinya dan orang lain juga semakin jauh. Dia mengetahui banyak istilah, menguasai banyak konsep, tetapi ketika seseorang bertanya tentang makna praktis dari semua itu, jawabannya berputar-putar.
Sebaliknya, orang yang benar-benar memahami sesuatu biasanya mampu membuat yang rumit menjadi terang.
Dia tidak kehilangan kedalaman ketika menggunakan bahasa sederhana.
Justru di situlah kehebatan intelektual dan spiritual menemukan bentuknya.
Seorang guru yang hebat bukan yang membuat murid merasa bodoh karena tidak memahami penjelasannya. Guru yang hebat adalah yang mampu membawa pengetahuan dari ruang yang rumit menuju pemahaman yang dapat disentuh kehidupan sehari-hari.
Begitu pula seorang pemimpin. Dia tidak perlu menggunakan kata-kata yang tinggi untuk menunjukkan bahwa dirinya memiliki wawasan. Dia mampu menjelaskan arah dengan bahasa yang dapat dipahami, mengambil keputusan tanpa memperumit keadaan, dan membuat orang lain merasa dilibatkan.
Kesederhanaan, dengan demikian, bukan pengurangan kualitas. Kesederhanaan adalah “hasil dari proses penyaringan”.
Orang yang telah banyak membaca, menganalisis, dan menyelami kehidupan tidak harus memamerkan semua yang dibaca, dianalisis, dan diselaminya. Orang yang telah banyak mengalami tidak perlu menceritakan seluruh suka dan lukanya. Orang yang telah melewati banyak perjalanan tidak selalu merasa perlu menunjukkan berapa jauh dia telah pergi.
Ada ketenangan pada orang yang sudah “selesai dan berdamai dengan kebutuhan untuk sekadar terlihat hebat”.
Dalam perspektif psikologis, kesederhanaan juga berkaitan dengan kemampuan membedakan kebutuhan dari keinginan. Kita belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki. Tidak semua pujian perlu dikejar. Tidak setiap perdebatan harus dimenangkan. Tidak setiap kesempatan harus diambil.
Kita pun mulai memahami batas.
Dan menyadari batas adalah salah satu bentuk kematangan.
Secara ruhani, kesederhanaan membawa manusia pada kesadaran bahwa segala yang dimiliki pada akhirnya bukan milik mutlak diri kita. Pengetahuan adalah amanah. Kekayaan adalah titipan. Jabatan adalah tanggung jawab. Pengalaman adalah bekal untuk memberi manfaat.
Kesadaran semacam ini membuat seseorang tidak mudah mabuk oleh kelebihan yang dimilikinya.
Dirinya boleh tinggi ilmunya, tetapi tetap rendah hatinya. Dia boleh luas pengalamannya, tetapi tetap bersedia belajar. Dia boleh memiliki pencapaian besar, tetapi tidak menjadikan pencapaian itu alasan untuk merendahkan orang lain.
Bahkan pengalaman pahit pun dapat diolah menjadi sesuatu yang sederhana dan berdampak positif.
Orang yang pernah jatuh tidak hanya sibuk menceritakan betapa sakitnya jatuh. Dia mencari pelajaran dari kejatuhan itu. Kemudian dia membagikannya kepada orang lain dalam bentuk yang mudah dipahami dan dapat mudah dipraktikkan.
Di situlah pengalaman berubah menjadi kebijaksanaan.
Sebab pengalaman yang hanya disimpan menjadi kenangan. Tetapi pengalaman yang direnungkan dapat menjadi pelajaran. Dan pelajaran yang dibagikan dengan bahasa sederhana dapat menjadi cahaya bagi perjalanan orang lain.
Itulah salah satu ciri manusia yang matang: mampu memeras kerumitan menjadi kejernihan, memeras yang keruh menjadi begitu bening
Dia tidak menambah kabut ketika orang lain sedang mencari jalan. Dia tidak menjadikan ilmu sebagai tembok.
Sebaliknya, dia menjadikan ilmu sebagai jembatan.
Kesederhanaan juga mengajarkan kita untuk kembali kepada hal-hal yang paling mendasar: hati yang baik, pikiran yang jernih, tubuh yang dijaga, hubungan yang dirawat, pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan kehidupan yang dijalani dengan kesadaran.
Kita tidak dikenang karena seberapa rumit menjelaskan diri kita. Kita akan dikenang karena seberapa mudah orang lain merasakan kebaikan dan manfaat adanya kita.
Maka, memilih sederhana bukan berarti mengecilkan diri. Memilih sederhana adalah memilih kedalaman tanpa kesombongan, memilih sikap tanpa kehilangan identitas, dan memilih kebermaknaan tanpa harus membuat kehidupan tampak rumit.
Semakin kita memahami kehidupan, semakin kita tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa cukup, nyaman, tenang, dan bahagia.
Dan semakin dalam seseorang mengenal Tuhan, semakin kita menyadari bahwa sederhana adalah hahikat kita.