Menjadi dewasa bukan sekadar bertambahnya usia. Usia hanya membuat angka bergerak, sementara kedewasaan menuntut sesuatu yang jauh lebih dalam: kesediaan untuk memahami kehidupan, menerima kenyataan, dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang kita ambil.
Ada orang yang usianya terus bertambah, tetapi cara berpikirnya tetap dikuasai oleh ego. Ada pula yang secara usia masih muda, tetapi cara memandang kehidupan begitu matang. Karena itu, dewasa sesungguhnya bukan perkara umur. Dewasa adalah pilihan tentang bagaimana kita merespons kehidupan.
Kehidupan tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita kehendaki. Ada kehilangan, kegagalan, penolakan, perubahan, perpisahan, kesalahpahaman, bahkan pengalaman yang membuat kita bertanya mengapa semua itu harus terjadi. Namun, setiap dinamika tersebut sesungguhnya dapat menjadi pijakan untuk bertumbuh.
Persoalannya bukan hanya apa yang terjadi kepada kita, tetapi apa yang kita lakukan setelah sesuatu terjadi.
Semakin dewasa seseorang, semakin ia menyadari bahwa hidup tidak harus selalu dimenangkan. Ada keadaan yang perlu diperjuangkan, tetapi ada pula yang harus diterima. Ada sesuatu yang perlu dipertahankan, tetapi ada pula yang justru harus dilepaskan.
Kedewasaan membuat kita tidak lagi memaksa semua hal mengikuti kehendak sendiri.
Dulu, mungkin kita mudah marah ketika keinginan tidak terpenuhi. Kita merasa kecewa ketika orang lain tidak memahami kita. Kita merasa dunia tidak adil ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Namun, perlahan kita belajar bahwa kehidupan bukanlah ruang yang diciptakan untuk memenuhi seluruh keinginan manusia.
Ada kebijaksanaan dalam menerima.
Menerima bukan berarti menyerah. Menerima adalah mengakui kenyataan dengan jernih agar energi kita dapat diarahkan pada sesuatu yang masih mungkin diperbaiki.
Dalam perspektif psikologis, kematangan tampak ketika seseorang mampu mengenali emosinya tanpa menjadi tawanan emosi tersebut. Ia boleh marah, tetapi tidak membiarkan kemarahan menentukan seluruh tindakannya. Ia boleh kecewa, tetapi tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk menyakiti. Ia boleh sedih, tetapi tidak menganggap kesedihan sebagai identitas dirinya.
Kita belajar memberi ruang kepada perasaan tanpa kehilangan kendali atas kehidupan.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting: menjadi dewasa jangan sampai membuat kita kehilangan hakikat diri.
Kadang-kadang dunia memaksa kita berubah sedemikian rupa hingga kita lupa siapa diri kita sebenarnya. Kita menjadi terlalu sibuk memenuhi ekspektasi. Kita belajar tersenyum ketika sebenarnya ingin menangis. Kita berkata “iya” karena takut mengecewakan. Kita mengejar sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena orang lain menganggapnya sebagai ukuran keberhasilan.
Akhirnya, kita menjadi dewasa di mata dunia, tetapi asing terhadap diri sendiri.
Padahal, kedewasaan yang sehat bukanlah kemampuan menjadi seperti yang diinginkan semua orang. Kedewasaan adalah kemampuan mengetahui siapa diri kita, apa nilai yang kita yakini, lalu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Kita boleh berubah tanpa kehilangan prinsip.
Kita boleh berkembang tanpa kehilangan kelembutan.
Kita boleh menjadi kuat tanpa menjadi keras.
Kita boleh memiliki pencapaian tanpa merasa lebih tinggi.
Kita boleh mengetahui banyak hal tanpa kehilangan kerendahan hati.
Dalam perjalanan ruhani, manusia juga diajak memahami bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Ada Tuhan yang mengatur, ada kehidupan yang memiliki misterinya sendiri, dan ada batas-batas yang memang tidak dapat ditembus oleh kehendak manusia.
Kesadaran semacam itu melahirkan kerendahan hati.
Kita berusaha, tetapi tidak menyombongkan kemampuan. Kita merencanakan, tetapi tidak menganggap rencana kita pasti terjadi. Kita memperoleh keberhasilan, tetapi tidak lupa bahwa kemampuan untuk berhasil pun merupakan karunia. Kita mengalami kegagalan, tetapi tidak menganggap kegagalan sebagai tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita.
Barangkali, menjadi dewasa adalah belajar membaca kehidupan dengan lebih luas.
Kegagalan tidak selalu berarti kehancuran.
Kehilangan tidak selalu berarti akhir.
Penolakan tidak selalu berarti kita tidak berharga.
Kesendirian tidak selalu berarti kita ditinggalkan.
Bahkan keterlambatan pun tidak selalu berarti kita tertinggal.
Ada banyak hal yang baru dapat kita pahami setelah kita melewati waktunya.
Karena itu, jangan terlalu keras kepada diri sendiri. Bertumbuh memang membutuhkan waktu. Kita tidak harus menjadi sempurna untuk disebut dewasa. Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus belajar, keberanian mengakui kesalahan, kerendahan hati untuk meminta maaf, dan ketulusan untuk memperbaiki diri.
Dewasa berarti semakin bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan semakin lembut kepada orang lain.
Semakin mengenal batas, tetapi tidak membangun tembok.
Semakin kuat menghadapi kehidupan, tetapi tidak kehilangan empati.
Semakin mampu berdiri sendiri, tetapi tidak merasa tidak membutuhkan siapa pun.
Dan semakin dekat kepada Tuhan, tetapi tidak merasa lebih suci daripada manusia lain.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan tentang seberapa jauh kita telah berjalan, melainkan seberapa dalam perjalanan itu mengubah kita.
Jika kehidupan membuat kita semakin bijaksana, berarti kita sedang bertumbuh.
Jika pengalaman membuat kita semakin rendah hati, berarti kita sedang belajar.
Jika luka membuat kita semakin memahami penderitaan orang lain, berarti luka itu telah menemukan maknanya.
Dan jika segala perubahan justru membuat kita semakin mengenal Tuhan dan semakin mengenal diri sendiri, di situlah kedewasaan menemukan hakikatnya.
Menjadi dewasa bukan meninggalkan diri yang dahulu, melainkan mengolahnya menjadi lebih matang. Kita tumbuh, tetapi tidak kehilangan akar. Kita berubah, tetapi tidak kehilangan arah. Kita menjadi lebih kuat, tetapi tetap tahu bagaimana menjadi manusia yang lembut.