Parenting terlalu sering ditempatkan dalam ruang yang sempit. Ketika mendengar kata parenting, pikiran kita segera tertuju pada ayah dan ibu, kemudian anak. Kita membayangkan bagaimana orang tua mendidik, membimbing, mendisiplinkan, melindungi, dan memenuhi kebutuhan anak. Seolah-olah parenting hanya bergerak dari orang tua menuju anak.
Cara pandang tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sederhana untuk menggambarkan keluasan makna parenting.
Parenting sesungguhnya berbicara tentang bagaimana manusia menghadirkan diri dalam relasi yang memiliki unsur pengasuhan, pembentukan, pengarahan, perlindungan, keteladanan, tanggung jawab, dan pertumbuhan. Karena itu, parenting tidak semata-mata persoalan siapa yang melahirkan dan siapa yang dilahirkan. Parenting adalah persoalan bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain dalam hubungan yang memungkinkan kehidupan berkembang menjadi lebih baik.
Jika demikian, parenting hadir jauh lebih luas daripada rumah.
Guru sedang melakukan parenting ketika berinteraksi dengan murid. Pimpinan sedang melakukan parenting ketika memperlakukan anggota tim. Atasan sedang melakukan parenting ketika membimbing bawahannya. Pejabat sedang melakukan parenting ketika menggunakan kewenangannya. Presiden sedang melakukan parenting ketika mengambil keputusan yang menentukan arah kehidupan rakyat. Bahkan seorang anak sedang melakukan parenting ketika merawat, menghormati, mendampingi, dan memperlakukan orang tuanya dengan penuh kesadaran.
Dengan pemahaman seperti ini, parenting bukan sekadar teknik mengasuh anak. Parenting adalah seni menghadirkan manusia yang lebih manusiawi dalam setiap relasi.
Parenting Bukan Sekadar Orang Tua dan Anak
Kita perlu membongkar satu pemahaman yang terlalu lama melekat: parenting hanya berlangsung secara vertikal dari orang tua kepada anak.
Padahal, kehidupan manusia dipenuhi relasi yang memungkinkan seseorang memengaruhi, membentuk, menguatkan, atau bahkan melukai manusia lain. Seorang guru dapat membuat murid merasa percaya diri atau sebaliknya merasa tidak berharga. Seorang pemimpin dapat menumbuhkan keberanian atau justru memelihara ketakutan. Seorang atasan dapat membangun kemandirian atau membuat bawahannya kehilangan inisiatif. Seorang pejabat dapat menghadirkan rasa aman atau menimbulkan ketidakpercayaan.
Semua itu menyentuh wilayah parenting karena terdapat proses memperlakukan, membimbing, memengaruhi, dan membentuk manusia.
Parenting dengan demikian tidak hanya berbicara tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang muncul setelah berinteraksi dengan kita.
Setelah bertemu seorang guru, apakah murid menjadi lebih berani berpikir?
Setelah bekerja bersama seorang pemimpin, apakah anggota tim menjadi lebih matang?
Setelah berada di bawah seorang atasan, apakah seseorang berkembang menjadi lebih bertanggung jawab?
Setelah berhadapan dengan seorang pejabat, apakah masyarakat merasa dihargai sebagai manusia?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam. Parenting bukan hanya tentang bagaimana kita membentuk orang lain, tetapi juga tentang jejak psikologis, moral, intelektual, dan kemanusiaan yang kita tinggalkan dalam kehidupan mereka.
Seorang guru yang hanya mengejar penyampaian materi mungkin telah mengajar, tetapi belum tentu telah melakukan parenting dengan baik. Guru yang membuat murid merasa aman untuk bertanya, berani melakukan kesalahan, mampu mengenali potensinya, dan terdorong menjadi manusia yang lebih baik sedang menjalankan fungsi pengasuhan yang jauh lebih luas.
Begitu pula seorang pemimpin.
Kepemimpinan yang hanya berisi instruksi, target, evaluasi, dan hukuman dapat menghasilkan kepatuhan. Namun, kepemimpinan yang disertai perhatian, keteladanan, dialog, kepercayaan, dan kesempatan berkembang dapat menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran.
Di sinilah parenting menjadi penting.
Kita bukan hanya membesarkan anak. Kita juga sedang “membesarkan” manusia melalui setiap relasi yang kita jalani.
Seorang atasan dapat membesarkan keberanian bawahannya. Seorang guru dapat membesarkan rasa ingin tahu muridnya. Seorang pemimpin dapat membesarkan rasa tanggung jawab anggota organisasinya. Seorang orang tua dapat membesarkan kemandirian anak. Bahkan seorang anak dapat membesarkan ketabahan dan kebahagiaan orang tuanya melalui perhatian dan penghormatan.
Relasi manusia ternyata tidak pernah benar-benar satu arah.
Kita saling membentuk.
Karena itu, parenting juga harus dipahami sebagai proses timbal balik. Orang tua mendidik anak, tetapi anak juga mengajarkan orang tua tentang kesabaran. Guru membimbing murid, tetapi murid juga mengajarkan guru tentang keberagaman manusia. Pemimpin mengarahkan anggota, tetapi anggota juga dapat memperluas cara pandang pemimpin.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya menjadi pendidik dan tidak pernah menjadi pembelajar.
Setiap relasi dapat menjadi ruang pertumbuhan apabila kita memiliki kesadaran untuk melihat manusia bukan sebagai objek yang harus dikendalikan, melainkan sebagai pribadi yang perlu dihormati dan ditumbuhkan.
Parenting sebagai Cara Menghadirkan Kemanusiaan
Jika parenting memiliki cakupan seluas itu, maka persoalan terbesarnya bukan lagi sekadar “Bagaimana cara mendidik anak?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Bagaimana cara kita memperlakukan manusia?”
Pertanyaan ini membawa parenting keluar dari ruang keluarga menuju ruang kehidupan.
Kita perlu melihat bahwa cara seorang presiden memperlakukan rakyatnya memiliki dimensi pengasuhan. Cara seorang pejabat menggunakan kewenangan memiliki dimensi pengasuhan. Cara seorang pemimpin memperlakukan anggota organisasi memiliki dimensi pengasuhan. Cara seorang guru berbicara kepada murid memiliki dimensi pengasuhan. Bahkan cara seorang anak memperlakukan orang tuanya juga memiliki dimensi pengasuhan.
Dalam setiap hubungan, selalu ada kemungkinan untuk membuat manusia lain tumbuh atau mengecil.
Satu kalimat dapat membangkitkan keberanian. Satu tatapan dapat membuat seseorang merasa dihargai. Satu kesempatan dapat mengubah masa depan. Sebaliknya, penghinaan yang terus-menerus dapat meruntuhkan kepercayaan diri. Perlakuan yang tidak adil dapat melahirkan luka. Kekuasaan yang digunakan tanpa empati dapat membuat manusia merasa tidak memiliki martabat.
Karena itu, kualitas parenting pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi oleh kualitas manusia yang menjalankannya.
Orang yang memiliki pengetahuan tentang parenting tetapi tidak mampu mengendalikan ego dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengontrol. Orang yang memahami komunikasi tetapi tidak memiliki empati dapat menggunakan kata-kata untuk memanipulasi. Orang yang menguasai teknik kepemimpinan tetapi tidak memiliki kepekaan dapat menjadikan manusia sekadar alat pencapai target.
Pengetahuan saja tidak cukup.
Parenting membutuhkan kesadaran.
Kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat. Kesadaran bahwa kekuasaan membawa tanggung jawab. Kesadaran bahwa kata-kata memiliki konsekuensi. Kesadaran bahwa anak bukan milik orang tua, murid bukan milik guru, bawahan bukan milik atasan, dan rakyat bukan milik penguasa.
Mereka adalah manusia yang sedang bertumbuh.
Maka, parenting yang sehat tidak berusaha menciptakan manusia yang sepenuhnya sesuai dengan keinginan kita. Parenting membantu manusia menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya tanpa kehilangan kebebasan, martabat, dan tanggung jawab.
Di sinilah parenting menjadi sebuah cara hidup.
Kita mengasuh bukan hanya ketika berada di rumah. Kita mengasuh ketika berbicara. Kita mengasuh ketika memimpin. Kita mengasuh ketika mengajar. Kita mengasuh ketika mengambil keputusan. Kita mengasuh ketika menggunakan kekuasaan. Kita bahkan mengasuh melalui cara kita merespons kesalahan orang lain.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari metode parenting terbaik, tetapi lupa bertanya apakah diri kita sudah menjadi manusia yang layak dijadikan tempat bertumbuh.
Anak belajar dari orang tua bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui kehidupan yang mereka saksikan. Murid belajar bukan hanya dari materi pelajaran, tetapi dari cara gurunya memperlakukan manusia. Anggota organisasi belajar bukan hanya dari aturan, tetapi dari perilaku pemimpinnya. Masyarakat belajar bukan hanya dari kebijakan, tetapi dari keteladanan para pemegang kekuasaan.
Karena itu, parenting terbesar sering kali tidak berbentuk kata-kata.
Parenting terbesar adalah keteladanan.
Kita mengajarkan kesabaran dengan menjadi manusia yang sabar. Kita mengajarkan kejujuran dengan hidup secara jujur. Kita mengajarkan penghormatan dengan menghormati manusia lain. Kita mengajarkan tanggung jawab dengan berani menanggung konsekuensi keputusan. Kita mengajarkan kasih sayang dengan menghadirkan rasa aman.
Pada titik ini, parenting menjadi jauh lebih luas daripada pengasuhan anak.
Parenting adalah bagaimana kita menggunakan kehadiran untuk menumbuhkan kehidupan.
Setiap manusia memiliki kemungkinan menjadi orang tua bagi seseorang dalam arti yang lebih luas: menjadi tempat belajar, tempat bertumbuh, tempat memperoleh keberanian, tempat menemukan arah, atau tempat mendapatkan kembali kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Karena itu, mari kita berhenti membatasi parenting hanya pada hubungan orang tua dan anak.
Menyelami parenting berarti menyelami seluruh relasi manusia.
Sebab setiap kali kita berinteraksi, kita sedang meninggalkan sesuatu dalam diri orang lain. Bisa berupa keberanian, bisa berupa luka. Bisa berupa harapan, bisa berupa ketakutan. Bisa berupa kebijaksanaan, bisa pula berupa trauma.
Pilihan ada pada kita.
Pertanyaannya bukan hanya, ‘Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk?’
Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah:
Manusia seperti apa yang menjadi lebih mungkin hadir karena kita?
Di situlah parenting menemukan maknanya yang paling luas: bukan sekadar membesarkan anak, melainkan membesarkan kemanusiaan melalui setiap relasi yang kita jalani.
Bismillah wa bi syafa’ati rasulillah