Sekitar 30 tahun lalu, ketika duduk di awal kelas 2 sekolah menengah pertama, ada kegiatan yang ketika itu terasa seperti menu baru: school of writing atau مدرسة الكتابة atau sekolah menulis. Bagi sebagian anak seusia kami, bersama anak lain yang berasal dari banyak daerah di Indonesia, istilah itu terdengar agak asing. Bahkan, waktu itu, menyeruak pertanyaan sederhana, “Ini pelajaran apa?” Alhamdulillah, menu baru tersebut tidak sepenuhnya membuat “kaget dan kram pikiran”, sebuah diksi yang sering dipakai anak-anak baru kala itu untuk menggambarkan sesuatu yang terasa asing, sulit, dan belum mudah dicerna.
Hal itu karena jauh sebelum mengenal istilah dalam kegiatan ini, kebetulan saya sudah sering melihat kebiasaan yang secara perlahan “seolah” menyiapkan diri untuk menerimanya. Orang tua, keluarga, para guru, dan kakak tingkat sering terlihat membaca, memerhatikan sesuatu dengan serius, menganalisis, kemudian berdialog. Kadang-kadang, dialog itu menghasilkan simpulan yang berdekatan. Kadang justru membuka perbedaan dan melahirkan perdebatan. Namun, dari sanalah saya belajar bahwa membaca bukan sekadar aktivitas mata mengikuti rangkaian huruf. Membaca adalah aktivitas kesadaran.
Kemudian, di sebuah gedung bernama “Kereta Senja”, proses-proses indah itu berlangsung. Nama yang mungkin bagi sebagian pembaca terdengar sederhana, tetapi bagi mereka yang pernah berada di sana, barangkali nama tersebut dapat menghadirkan senyum kecil dan sedikit nostalgia. Di tempat itu, pelatihan “sekolah menulis” menjadi salah satu pengalaman yang perlahan mempertemukan antara kegiatan membaca, menganalisis, berdialog, dan menulis dalam satu rangkaian yang utuh.
Dari sana saya semakin memahami bahwa membaca bukanlah garis akhir.
Membaca adalah awal perjalanan.
Sebuah tulisan yang kita baca sesungguhnya sedang mengetuk pintu pikiran. Setelah pintu itu terbuka, kita tidak semestinya hanya membiarkan gagasan masuk, duduk sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan apa-apa. Gagasan perlu dipertemukan dengan pengalaman. Pengetahuan perlu diuji dengan kehidupan. Informasi perlu diolah menjadi pemahaman. Pemahaman perlu melahirkan kesadaran. Dan kesadaran, kalau ingin memiliki umur panjang, perlu menemukan bentuknya dalam tindakan maupun tulisan.
Karena itu, semakin lama saya semakin percaya bahwa menjadi pembaca seharusnya mengantarkan seseorang menjadi penulis, setidaknya penulis bagi dirinya sendiri.
Seorang pembaca yang tidak pernah menuliskan apa yang dibacanya mungkin seperti seseorang yang terus-menerus makan, tetapi tidak pernah memberi ruang bagi tubuh untuk mengeluarkan sisa-sisa yang tidak dibutuhkan. Mohon maaf atas analogi yang agak kasar itu, tetapi justru di situlah letak kelucuannya sekaligus kebenarannya. Apa yang masuk perlu diolah. Apa yang tidak berguna perlu dikeluarkan. Apa yang bernilai perlu diserap. Demikian pula pengetahuan. Perlu ditegaskan di sini bahwa mengeluarkan yang tak berguna bukan kemudian berarti apa yang keluar (melalui kata, sikap, dan tulisan) merupakan sisa dan tidak penting.
Membaca tanpa mengolah dapat membuat seseorang penuh informasi tetapi miskin pemahaman. Membaca tanpa merenungkan dapat membuat seseorang banyak kutipan tetapi sedikit kebijaksanaan. Membaca tanpa menulis dapat membuat gagasan berdesakan di kepala, tetapi tidak pernah menemukan bentuk yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Menulis, bagi saya, bukan sekadar menghasilkan teks.
Menulis adalah cara mengeluarkan isi kepala agar kita sendiri dapat melihat apa yang sebenarnya kita pikirkan.
Sering kali kita merasa memahami sesuatu sampai kita mencoba menuliskannya. Ketika mulai menulis, tiba-tiba kita sadar bahwa pemahaman kita belum utuh. Ada bagian yang masih kabur. Ada hubungan gagasan yang belum tersusun. Ada keyakinan yang ternyata hanya asumsi. Di situlah menulis menjadi ruang kejujuran intelektual dan spiritual.
Maka, membaca dan menulis sebenarnya bukan dua kegiatan yang terpisah. Keduanya seperti menarik dan mengembuskan napas. Membaca memberi asupan kepada pikiran. Menulis mengolah dan mengeluarkan hasil pengolahan itu. Membaca membuat kita bertemu pikiran orang lain. Menulis membuat pikiran kita memiliki kesempatan bertemu dengan orang lain juga.
Tiga puluh tahun mungkin telah berlalu sejak pelatihan itu. Banyak hal berubah. Teknologi berubah. Cara membaca berubah. Cara orang menulis berubah. Informasi kini datang begitu deras, bahkan sering kali sebelum kita sempat bertanya apakah informasi tersebut layak dipercaya.
Namun, satu hal tetap penting: kita harus tetap menjadi pembaca yang berpikir dan penulis yang bertanggung jawab.
Membaca agar tidak mudah diseret arus. Menganalisis agar tidak mudah ditipu kemasan.
Menulis agar gagasan tidak berhenti sebagai percakapan dalam kepala.
Dan mungkin, perjalanan panjang itu bermula dari sebuah ruangan, sebuah pelatihan, sebuah nama yang sekarang terasa nostalgis: Kereta Senja.
Dari sana saya belajar bahwa membaca dapat membuka cakrawala. Menganalisis dapat mempertajam pandangan. Berdialog dapat memperluas pemahaman. Dan menulis dapat membuat semua proses itu meninggalkan jejak.
Sebab manusia akan pergi, tetapi gagasan yang dituliskannya dapat terus berjalan.
Maka, menjadi pembaca adalah belajar menerima dunia. Menjadi penulis adalah belajar memberi kembali kepada dunia.
Dan barangkali, hidup yang baik adalah ketika apa yang kita baca tidak hanya membuat kita tahu lebih banyak, tetapi membuat kita mampu meninggalkan sesuatu yang layak dibaca oleh mereka yang datang setelah kita.
Saya berkeyakinan:
semua orang adalah pembaca, dan karena itu, semua orang adalah penulis.
Tentang bagaimana menuliskannya, saya juga yakin, semua memiliki caranya masing-masing.
Mari menjadi pembaca, mari menjadi penulis.
Bismillah wa bi syafa’ati rasulillah