Ada saat-saat tertentu ketika kita perlu mengambil jarak. Bukan karena membenci, bukan karena ingin meninggalkan, dan bukan pula karena merasa lebih tinggi daripada yang lain. Ada jarak yang justru lahir dari kasih sayang kepada diri sendiri, kejernihan hati, dan keinginan untuk melihat kehidupan tanpa terlalu banyak kabut.
Kita sering terlalu dekat dengan sesuatu yang sedang kita jalani. Terlalu dekat dengan pekerjaan, terlalu dekat dengan ambisi, terlalu dekat dengan penilaian manusia, bahkan terlalu dekat dengan keinginan diri sendiri. Karena terlalu dekat, kita kehilangan kemampuan untuk melihat dengan jernih. Yang kecil tampak besar. Yang sementara terasa abadi. Yang tidak penting terasa menentukan seluruh kehidupan.
Maka, sesekali kita perlu berjarak.
Berjarak bukan berarti tidak peduli. Berjarak adalah memberi ruang agar hati dapat kembali mendengar suara yang lebih dalam.
Jarak yang Mengembalikan Kejernihan
Ada perbedaan antara meninggalkan sesuatu dan melepaskan keterikatan terhadap sesuatu.
Kita bisa tetap berada di tempat yang sama, tetapi hati tidak lagi diperbudak oleh tempat tersebut. Kita bisa tetap bekerja, tetapi pekerjaan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran harga diri. Kita bisa mencintai seseorang, tetapi tidak menjadikan cinta itu sebagai alasan untuk kehilangan diri. Kita bisa memiliki harta, tetapi tidak membiarkan harta memiliki hati kita.
Di situlah makna berjarak menjadi penting.
Kadang-kadang yang perlu dijauhkan bukan benda, manusia, atau tempat, melainkan keterikatan yang berlebihan.
Kita perlu belajar mengambil jarak dari pujian agar tidak mabuk oleh pengakuan. Mengambil jarak dari celaan agar tidak runtuh oleh penilaian. Mengambil jarak dari ambisi agar tidak kehilangan ketenangan. Mengambil jarak dari masa lalu agar tidak terus hidup dalam luka. Mengambil jarak dari masa depan agar tidak terus-menerus dikejar kecemasan.
Bahkan terhadap diri sendiri pun kita perlu berjarak.
Sebab tidak semua keinginan harus dituruti. Tidak semua perasaan harus dipercaya. Tidak semua pikiran harus diikuti. Ada suara dalam diri yang lahir dari ketakutan, ego, luka, dan keinginan untuk diakui. Jika semua suara itu langsung dianggap sebagai kebenaran, kita akan mudah tersesat di dalam diri sendiri.
Jarak memberi kesempatan kepada kesadaran untuk menyaksikan semuanya tanpa tergesa-gesa.
Dalam keheningan, kita mulai mampu bertanya: Apa sebenarnya yang sedang saya cari? Mengapa saya membutuhkan pengakuan? Mengapa saya merasa harus selalu terlihat berhasil? Mengapa saya begitu gelisah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak segera memberikan jawaban. Namun, pertanyaan yang jujur sering kali lebih menyembuhkan daripada jawaban yang terburu-buru.
Berjarak juga mengajarkan kita tentang keikhlasan.
Kita mulai memahami bahwa tidak semua yang kita inginkan harus terjadi. Tidak semua yang kita rencanakan harus menjadi kenyataan. Ada sesuatu yang memang harus diperjuangkan, tetapi ada pula sesuatu yang harus diserahkan.
Menyerahkan bukan berarti kalah.
Ada bentuk penyerahan yang justru menunjukkan kedewasaan hati.
Kita berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Kita melakukan kebaikan, kemudian tidak sibuk menghitung penghargaan yang akan diterima. Kita membantu seseorang, kemudian tidak menjadikan bantuan itu sebagai hutang moral yang harus dibayar kembali.
Semakin dalam seseorang belajar berjarak, semakin ringan langkahnya.
Sebab banyak beban kehidupan ternyata bukan berasal dari apa yang kita miliki, melainkan dari apa yang terlalu kita lekatkan kepada hati.
Kita ingin dipuji.
Kita takut ditolak.
Kita ingin selalu benar.
Kita takut kehilangan.
Kita ingin dikagumi.
Kita ingin segala sesuatu berjalan sesuai kehendak.
Semua itu membuat hati penuh.
Padahal, hati yang terlalu penuh sulit menerima sesuatu yang lebih besar.
Mungkin karena itu, perjalanan ruhani selalu membutuhkan ruang. Ruang untuk diam. Ruang untuk merenung. Ruang untuk menangis. Ruang untuk mengakui kelemahan. Ruang untuk menyadari bahwa manusia bukan pusat dari segala sesuatu.
Ketika jarak itu tercipta, kita mulai melihat bahwa kehidupan tidak selalu harus ditaklukkan. Ada bagian kehidupan yang cukup dipahami. Ada yang cukup diterima. Ada yang perlu diperjuangkan. Ada pula yang harus direlakan.
Dan ketika hati mulai mampu membedakan semuanya, langkah menjadi lebih utuh.
Kita tidak lagi berjalan karena ingin membuktikan sesuatu kepada dunia. Kita berjalan karena mengetahui ke mana hati hendak diarahkan.
Kita tidak lagi mengejar kehidupan dengan tergesa-gesa. Kita menjalaninya dengan kesadaran.
Kita tidak lagi sibuk menjadi seseorang di mata manusia. Kita belajar menjadi hamba yang baik di hadapan Tuhan.
Barangkali, inilah salah satu keindahan belajar berjarak: kita tidak menjauh dari kehidupan, tetapi menjauh sejenak dari keterikatan yang membuat kita tidak mampu melihat kehidupan sebagaimana adanya.
Dengan jarak, kita belajar sungguh-sungguh sadar.
Berusaha dengan tenang, fokus, dan senyum, tanpa memaksa Tuhan menuruti kemauan kita.
Kita pun mampu memberi tanpa menuntut.
Berjalan tanpa harus selalu dipuji.
Dan menyerahkan tanpa kehilangan harapan.
Sebab ada perjalanan yang hanya dapat ditempuh ketika pikiran mulai terbuka dan hati mulai berserah.
Berjarak bukan menjauh dari kehidupan. Berjarak adalah mendekat pada kejernihan, agar kita dapat kembali melangkah dengan hati yang lebih utuh, niat yang lebih murni, dan kesadaran bahwa seluruh perjalanan pada akhirnya menuju kepadaNya.
Bismillah wa bi syafa’ati rasulillah