Kenapa Sibuk Mencari Validasi Orang Lain?
Ada kegelisahan yang semakin sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang sebenarnya hebat, memiliki kemampuan, pengalaman, gagasan, bahkan karya yang layak dibanggakan. Namun, semua kelebihan itu seakan belum cukup sebelum mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Kita mengunggah foto, lalu menunggu siapa yang menyukai. Kita menulis status, kemudian berkali-kali membuka layar untuk melihat siapa yang memberikan tanda suka. Kita membuat video, lalu menghitung jumlah penonton. Kita memperhatikan komentar, membandingkan jumlah respons, bahkan diam-diam mengamati siapa saja yang melihat tetapi tidak memberikan apresiasi.
Anehnya, kebahagiaan kita kemudian ditentukan oleh sesuatu yang berada di luar diri kita.
Satu tanda suka dapat membuat hati berbunga. Satu komentar positif dapat membuat kita merasa berharga. Sebaliknya, ketika unggahan tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan, muncul kegelisahan. Ada yang merasa tidak diperhatikan. Ada yang menghapus unggahan. Ada yang kecewa kepada teman. Bahkan ada yang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
Mengapa manusia yang sesungguhnya memiliki begitu banyak potensi justru membutuhkan pengesahan dari orang lain untuk merasa berharga?
Ketika Harga Diri Diserahkan kepada Orang Lain
Validasi pada dasarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Manusia memang membutuhkan penghargaan, penerimaan, perhatian, dan pengakuan. Seorang anak membutuhkan apresiasi dari orang tuanya. Seorang pekerja membutuhkan penghargaan atas kontribusinya. Seorang pasangan tentu ingin dihargai. Dalam kehidupan sosial, kebutuhan untuk diterima merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Persoalannya muncul ketika validasi berubah dari kebutuhan menjadi ketergantungan.
Kita mulai merasa baik hanya ketika orang lain mengatakan bahwa kita baik. Kita merasa berhasil hanya ketika orang lain mengakui keberhasilan kita. Kita merasa cantik atau tampan hanya ketika mendapatkan pujian. Kita merasa pintar ketika orang lain mengatakannya. Bahkan kita merasa hidup kita menarik ketika orang lain memberikan banyak tanda suka.
Di titik tertentu, kita tidak lagi hidup berdasarkan penilaian yang lahir dari kesadaran diri, melainkan berdasarkan reaksi lingkungan.
Media sosial membuat keadaan ini menjadi semakin rumit. Dahulu, seseorang mungkin hanya mendapatkan penilaian dari lingkungan yang terbatas. Sekarang, dalam hitungan detik, seseorang dapat menerima respons dari puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. Angka jumlah pengikut, likes, views, dan komentar kemudian dapat berubah menjadi semacam cermin yang digunakan untuk menilai diri sendiri.
Masalahnya, cermin tersebut tidak selalu menunjukkan siapa kita.
Jumlah likes tidak pernah menjadi ukuran utuh tentang kualitas seseorang. Jumlah followers tidak menunjukkan kedalaman pikiran. Jumlah views tidak otomatis menggambarkan kebermaknaan sebuah karya. Komentar positif tidak selalu berarti seseorang benar-benar memahami siapa kita. Sebaliknya, sedikit respons juga tidak berarti kita tidak berharga.
Ada karya yang sangat bermakna tetapi tidak viral. Ada pemikiran yang sangat dalam tetapi tidak ramai dibicarakan. Ada manusia yang luar biasa tetapi hidupnya tidak pernah menjadi tontonan publik.
Kita harus berhenti menyamakan popularitas dengan kualitas.
Sesuatu yang ramai belum tentu bernilai. Sesuatu yang sepi belum tentu tidak berarti.
Bayangkan seseorang yang telah bekerja keras bertahun-tahun, belajar dengan sungguh-sungguh, membangun karakter, menjaga keluarganya, membantu orang lain, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Kemudian semua pencapaian itu tiba-tiba terasa tidak berarti hanya karena sebuah unggahan di media sosial tidak mendapatkan cukup likes.
Bukankah itu terlalu mahal untuk sebuah tanda suka?
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang mulai mengubah dirinya agar sesuai dengan selera publik. Bukan lagi bertanya, “Apa yang benar bagi saya?” melainkan, “Apa yang akan membuat orang menyukai saya?”
Dari sinilah kehidupan perlahan kehilangan keaslian.
Kita mulai memilih pakaian bukan karena nyaman, tetapi agar mendapatkan pujian. Berbicara bukan karena memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan, tetapi agar terlihat menarik. Berbuat baik bukan karena dorongan hati, tetapi agar dapat dipublikasikan. Bahkan kebahagiaan pun terkadang dipertontonkan agar memperoleh pengakuan.
Kita akhirnya tidak sedang menjalani kehidupan. Kita sedang mengelola persepsi orang lain tentang kehidupan kita.
Padahal, tidak semua hal harus diketahui orang lain.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua kebahagiaan harus dipublikasikan. Tidak semua kebaikan membutuhkan penonton. Tidak semua perjalanan membutuhkan tepuk tangan.
Ada kehidupan yang justru menjadi lebih indah ketika sebagian darinya tetap menjadi ruang pribadi antara diri kita dan Tuhan.
Belajar Menjadi Berharga Tanpa Tepuk Tangan
Ada saatnya kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “Kalau tidak ada seorang pun yang melihat, apakah saya masih mau melakukan hal baik ini?”
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi sangat dalam.
Kalau kita masih mau belajar meskipun tidak ada yang memuji, berarti kita memiliki kesadaran tentang pertumbuhan. Kalau kita tetap berkarya meskipun tidak mendapatkan likes, berarti kita memahami bahwa karya memiliki nilai yang lebih besar daripada respons sesaat. Kalau kita tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang mengetahui, berarti kebaikan telah menemukan tempat yang lebih matang dalam diri.
Kehidupan yang sehat bukan kehidupan yang sama sekali tidak membutuhkan apresiasi. Kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang tidak menjadikan apresiasi sebagai satu-satunya sumber harga diri.
Kita boleh senang ketika mendapatkan pujian. Kita boleh bahagia ketika karya diapresiasi. Kita boleh tersenyum ketika seseorang memberikan komentar positif. Tetapi semua itu seharusnya menjadi tambahan, bukan fondasi keberhargaan diri.
Fondasi itu harus tumbuh dari dalam.
Kita perlu mengenali siapa diri kita tanpa angka. Siapa kita ketika tidak ada followers. Siapa kita ketika tidak ada kamera. Siapa kita ketika tidak ada komentar. Siapa kita ketika tidak ada seorang pun yang memberikan tepuk tangan.
Di sana kita akan menemukan sesuatu yang lebih penting daripada validasi: integritas.
Orang yang mengenal nilai dirinya tidak mudah runtuh hanya karena tidak mendapatkan pengakuan. Bukan berarti tidak memiliki perasaan. Tentu ada kecewa, sedih, atau senang. Namun, emosi tersebut tidak mengambil alih seluruh identitasnya.
Kita perlu belajar mengatakan kepada diri sendiri, “Saya tetap berharga meskipun tidak semua orang menyukai saya.”
Kalimat tersebut bukan kesombongan. Justru itu bentuk kedewasaan.
Tidak semua orang harus menyukai kita. Tidak semua orang harus memahami pilihan kita. Tidak semua orang harus memberikan komentar positif. Bahkan terkadang, semakin kita bertumbuh, semakin banyak perbedaan yang mungkin muncul.
Kita tidak dilahirkan untuk menjadi versi yang disukai semua orang.
Kita dilahirkan untuk menjadi manusia yang sadar, bertumbuh, memiliki nilai, dan memberikan manfaat.
Karena itu, mungkin sudah waktunya mengubah pertanyaan. Jangan terlalu sering bertanya, “Berapa banyak orang yang menyukai saya?”
Tanyakanlah, “Seberapa banyak nilai yang sudah saya berikan?”
Jangan hanya bertanya, “Berapa orang yang memperhatikan saya?”
Tanyakan, “Siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena kehadiran saya?”
Jangan hanya menghitung jumlah likes.
Hitunglah keberanian yang sudah kita bangun, ilmu yang sudah kita bagikan, kebaikan yang sudah kita lakukan, kesalahan yang sudah kita perbaiki, orang yang sudah kita bantu, dan kehidupan yang sudah kita sentuh.
Sebab, ukuran terbesar dari kehidupan bukanlah seberapa banyak orang yang menekan tombol suka, melainkan seberapa dalam kehidupan kita menghadirkan makna.
Kita tidak harus menjadi populer untuk menjadi berharga.
Kita tidak harus viral untuk menjadi berarti.
Kita tidak harus mendapatkan komentar positif untuk membuktikan bahwa kita memiliki kualitas.
Dan kita tidak perlu menunggu dunia mengatakan bahwa kita hebat untuk mulai mempercayai potensi yang telah Tuhan titipkan dalam diri.
Ada waktunya kita berhenti mengejar tepuk tangan.
Bukan karena kita tidak menghargai orang lain, tetapi karena kita sudah berdamai dengan diri sendiri.
Bukan karena kita tidak membutuhkan apresiasi, tetapi karena kita tidak lagi menggantungkan keberhargaan pada apresiasi.
Bukan karena kita tidak ingin dilihat, tetapi karena kita telah belajar melihat diri sendiri dengan jujur.
Mungkin inilah bentuk kebebasan yang sesungguhnya: mampu tetap menjadi diri sendiri ketika tidak ada yang memberikan validasi.
Sebab manusia yang terus-menerus mencari pengakuan akan selalu merasa kurang. Hari ini membutuhkan seratus likes, besok membutuhkan seribu. Hari ini senang karena dipuji, besok kembali gelisah karena pujian itu berhenti. Selama sumber keberhargaan berada di luar diri, ketenangan akan selalu bergantung pada sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
Tetapi ketika kita mulai menemukan nilai diri dari dalam, sesuatu berubah.
Kita tetap berkarya ketika tidak ada yang melihat.
Kita tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memuji.
Kita tetap bertumbuh ketika tidak ada yang bertepuk tangan.
Dan kita tetap berjalan meskipun tidak semua orang memberikan validasi.
Karena kita akhirnya memahami satu hal yang sangat penting: nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang menyukai kita, tetapi oleh seberapa sungguh-sungguh kita menjalani kehidupan ini dan memerikan manfaat di dalamnya.
Bismillah wa bi syafa’ati rasulillah