Ada kegelisahan yang layak kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari: mengapa begitu banyak orang sibuk merasa lebih unggul daripada orang lain?
Ada yang merasa lebih pintar. Ada yang merasa lebih kaya. Ada yang merasa lebih berpendidikan. Ada yang merasa lebih berpengalaman. Ada yang merasa lebih religius, lebih berpengaruh, lebih berprestasi, lebih penting, bahkan lebih layak dihormati. Keunggulan yang seharusnya menjadi anugerah perlahan berubah menjadi alasan untuk memandang manusia lain dari tempat yang lebih tinggi.
Padahal, merasa unggul tidak selalu berarti benar-benar unggul.
Terkadang seseorang hanya memiliki satu kelebihan, lalu menggunakannya sebagai ukuran untuk menilai keseluruhan manusia. Memiliki pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana. Memiliki jabatan tidak otomatis membuat seseorang lebih mulia. Memiliki banyak harta tidak otomatis membuat seseorang lebih bernilai. Memiliki banyak pengikut tidak otomatis membuat gagasannya lebih bermutu.
Kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar perbandingan.
Kita dapat unggul dalam satu hal dan tertinggal dalam hal lain. Kita dapat memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang lain, tetapi orang lain mungkin memiliki keteguhan yang belum kita miliki. Kita dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang dalam. Kita dapat memiliki keberhasilan yang besar, tetapi belum tentu mampu menjadi manusia yang menyenangkan bagi orang-orang di sekitar.
Karena itu, pertanyaan “Apakah saya lebih unggul?” mungkin bukan pertanyaan yang paling penting.
Pertanyaan yang jauh lebih bermakna adalah, “Untuk apa keunggulan yang saya miliki?”
Keunggulan Tidak Membutuhkan Kesombongan
Keunggulan sering kali disalahpahami sebagai posisi yang lebih tinggi daripada orang lain. Ketika seseorang merasa memiliki kemampuan lebih, muncul dorongan untuk menunjukkan perbedaan. Dari sinilah keunggulan dapat berubah menjadi kesombongan.
Kita mulai membicarakan pencapaian sendiri terlalu sering. Kita senang menceritakan siapa yang kita kenal. Kita merasa perlu menunjukkan tempat yang pernah dikunjungi, penghargaan yang diterima, jabatan yang dimiliki, karya yang dihasilkan, atau keberhasilan yang dicapai. Bukan karena pencapaian tersebut tidak layak disyukuri, tetapi karena pencapaian itu mulai digunakan untuk membangun jarak dengan orang lain.
Kita tidak lagi sekadar mengatakan, “Saya mampu.”
Kita mulai menyiratkan, “Saya lebih mampu daripada Anda.”
Di situlah masalahnya.
Keunggulan yang sehat tidak membutuhkan manusia lain untuk dibuat lebih rendah. Sebaliknya, semakin seseorang memahami kualitas dirinya, semakin kecil kebutuhan untuk merendahkan orang lain.
Pohon yang tinggi tidak pernah sibuk mengatakan bahwa rumput terlalu pendek.
Gunung tidak pernah menghina lembah karena berada di bawahnya.
Laut tidak pernah merasa perlu membuktikan bahwa dirinya lebih luas daripada sungai.
Alam memberikan pelajaran sederhana: sesuatu dapat menjadi besar tanpa harus merendahkan yang lain.
Manusia pun seharusnya demikian.
Jika kita memiliki ilmu, biarkan ilmu membuat kita semakin terbuka. Jika kita memiliki kekayaan, biarkan kekayaan membuat kita semakin mudah berbagi. Jika kita memiliki jabatan, biarkan jabatan memperbesar tanggung jawab. Jika kita memiliki kemampuan, gunakan kemampuan tersebut untuk membantu mereka yang belum memilikinya.
Sebab ukuran keunggulan bukan hanya seberapa jauh kita berada di depan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang dapat kita hadirkan dari posisi tersebut.
Orang yang merasa unggul sering kali sibuk mencari pembanding. Setiap pertemuan menjadi arena penilaian. Siapa yang lebih pintar? Siapa yang lebih kaya? Siapa yang lebih populer? Siapa yang lebih berpengaruh? Siapa yang lebih sukses?
Kehidupan akhirnya berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.
Hari ini kita merasa menang karena memiliki sesuatu yang lebih. Besok muncul orang yang memiliki lebih banyak. Hari ini kita merasa paling pintar di sebuah ruangan. Besok kita masuk ke ruangan yang dipenuhi orang-orang dengan pengetahuan jauh lebih luas.
Jika harga diri dibangun dari perbandingan, ketenangan tidak pernah benar-benar ditemukan.
Selalu ada seseorang yang lebih tinggi, lebih kaya, lebih terkenal, lebih cerdas, atau lebih berpengalaman.
Namun, ada satu hal yang tidak perlu dibandingkan: kualitas karakter.
Karakter tidak membutuhkan kompetisi.
Kita tidak perlu menjadi lebih baik daripada orang lain untuk menjadi manusia yang baik. Kita hanya perlu terus bertumbuh menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.
Di sinilah kerendahan hati memiliki kedudukan yang sangat penting.
Rendah hati bukan berarti menyangkal kemampuan. Rendah hati berarti mengetahui kemampuan tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan manusia lain. Orang yang rendah hati dapat mengatakan, “Saya mampu,” tanpa harus menambahkan, “Karena itu Anda tidak mampu.”
Bahkan, orang yang benar-benar unggul biasanya memiliki kemampuan untuk membuat orang lain merasa tetap berharga ketika berada di dekatnya.
Keunggulan yang membuat orang lain takut mungkin menghasilkan jarak.
Keunggulan yang membuat orang lain merasa aman menghasilkan pengaruh.
Keunggulan sebagai Jalan Kebaikan
Barangkali pertanyaan tentang keunggulan harus kita ubah dari “Seberapa tinggi posisi saya?” menjadi “Seberapa besar manfaat yang dapat saya berikan?”
Perubahan pertanyaan ini mengubah cara kita memandang diri sendiri.
Keunggulan bukan lagi mahkota untuk dipamerkan, melainkan amanah untuk digunakan.
Orang yang memiliki kecerdasan dapat membantu orang lain memahami sesuatu. Orang yang memiliki pengalaman dapat membimbing mereka yang sedang belajar. Orang yang memiliki kekuasaan dapat membuka kesempatan. Orang yang memiliki harta dapat meringankan beban. Orang yang memiliki jaringan luas dapat mempertemukan orang-orang yang membutuhkan. Orang yang memiliki kemampuan berbicara dapat menyebarkan gagasan yang mencerdaskan.
Dengan demikian, keunggulan tidak berhenti pada diri sendiri.
Keunggulan menjadi bermakna ketika bergerak keluar dari diri.
Ada orang yang sangat pintar, tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa bodoh. Ada orang yang sangat kaya, tetapi keberadaannya membuat orang lain merasa tidak berarti. Ada orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi orang-orang di sekitarnya justru merasa tertekan. Ada pula orang yang memiliki banyak prestasi, tetapi sulit diajak berbicara karena terlalu sibuk mempertahankan citra dirinya.
Apa yang sebenarnya diperoleh dari semua itu?
Mungkin tepuk tangan.
Mungkin kekaguman.
Mungkin rasa takut dari orang lain.
Tetapi belum tentu penghormatan, kehormatan, kemuliaan, dan kemurnia.
Penghormatan yang mendalam tidak lahir karena seseorang terlihat hebat. Penghormatan tumbuh ketika kehebatan tersebut disertai kerendahan hati, ketulusan, konsistensi, dan manfaat nyata.
Kita tentu boleh bangga atas pencapaian. Kita boleh menikmati hasil kerja keras. Kita boleh mengakui kemampuan yang dimiliki. Bahkan, mengenali potensi diri merupakan bagian penting dari pertumbuhan.
Yang perlu dihindari adalah ketika kebanggaan berubah menjadi superioritas.
Ada perbedaan antara mengetahui bahwa kita memiliki kelebihan dan merasa bahwa kelebihan itu membuat kita lebih berharga daripada orang lain.
Yang pertama melahirkan rasa syukur.
Yang kedua melahirkan kesombongan.
Pribadi unggul tidak kehilangan keramahan hanya karena memiliki banyak kelebihan. Tidak kehilangan kesediaan mendengar hanya karena memiliki banyak pengetahuan. Tidak kehilangan kesopanan hanya karena memiliki jabatan. Tidak kehilangan empati hanya karena memiliki kekuasaan.
Justru kelebihan membuatnya semakin membumi.
Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar kesadaran bahwa semua itu bukan alasan untuk berdiri sendirian. Ada guru yang pernah mengajarkan. Ada orang tua yang pernah menguatkan. Ada sahabat yang pernah menemani. Ada masyarakat yang memberikan ruang. Ada kesempatan yang tidak selalu dapat diciptakan sendiri.
Tidak ada keberhasilan yang sepenuhnya lahir dari satu manusia.
Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih mudah bersyukur dan lebih sulit merendahkan orang lain.
Maka, kalau kita memang unggul, untuk apa sibuk membuktikannya?
Kalau memang berilmu, mengapa harus membuat orang lain merasa bodoh?
Kalau memang kuat, mengapa harus menggunakan kekuatan untuk menekan?
Kalau memang sukses, mengapa keberhasilan harus menjadi alasan untuk memandang rendah mereka yang masih berjuang?
Bukankah jauh lebih indah apabila keunggulan kita menjadi tangga bagi orang lain?
Bukankah lebih bermakna apabila keberhasilan kita membuka jalan bagi orang lain untuk bertumbuh?
Bukankah lebih mulia apabila orang lain menjadi lebih percaya diri setelah bertemu dengan kita?
Pribadi unggul bukan pribadi yang selalu berada di atas. Pribadi unggul adalah pribadi yang ketika berada di atas, masih mampu melihat manusia lain sebagai sesama.
Keunggulan sejati tidak membuat seseorang kehilangan kemanusiaannya.
Keunggulan sejati justru memperdalam kemanusiaan.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk merasa unggul.
Lebih baik sibuk memperluas ilmu, memperkuat karakter, memperhalus sikap, memperbesar manfaat, dan memperbanyak kebaikan.
Sebab manusia yang benar-benar unggul tidak menjadikan kelebihannya sebagai alasan untuk meninggi. Keunggulannya justru membuat langkahnya semakin membumi.
Tidak perlu menjadi yang paling hebat untuk menjadi berarti.
Tidak perlu berada di atas orang lain untuk memberikan manfaat.
Tidak perlu merendahkan siapa pun untuk membuktikan bahwa kita memiliki kelebihan.
Keunggulan yang paling bernilai bukanlah kemampuan untuk berdiri lebih tinggi daripada orang lain, melainkan kemampuan menggunakan apa yang kita miliki agar kehidupan di sekitar kita menjadi sedikit lebih baik.
bismillah wa bi syafa’ati rasulillah.